Hujan Meteor Quadrantids


Menurut para ahli astronomi , perbintangan , dan perplanetan Hujan meteor Quadrantid adalah salah satu hujan meteor yang terbaik dalam setahun. Jumlah meteor mencapai 100 buah per jam. Asal radian dari hujan meteor ini adalah di dekat rasi Bootes, yang terletak di belahan langit utara.

Sedikit berbeda dengan penamaan hujan meteor lainnya, hujan meteor ini dinamakan sesuai dengan rasi yang kini sudah tidak ada lagi. Rasi yang dimaksud adalah Quadran Muralis. Rasi yang ditemukan oleh J. Lalande pada tahun 1795 ini terletak dekat ekor dari Ursa Major, di antara Bootes dan Draco. Rasi ini menunjukkan alat mural quadrant, yang biasa digunakan untuk menentukan posisi benda langit.

Hujan meteor ini terjadi pada pekan pertama Januari. Biasanya Rasi Bootes akan terbit sekitar pukul 2 dini hari, sehingga hujan meteor ini akan dapat disaksikan dengan lebih baik sekitar pukul 3, setelah arah radiannya sudah cukup tinggi di langit sebelah timur.

Hujan meteor ini pertama kali diamati pada tahun 1825. Namun posisinya yang berada jauh di utara menyebabkan hujan meteor ini sering tidak dapat diamati dengan baik. Karena di bulan Januari, belahan bumi utara mengalami musim dingin, sehingga langit tidak terlalu bersahabat. Selain itu juga karena puncak dari hujan meteor ini hanya berlangsung sekitar 2 jam saja.

Berbeda dengan kebanyakan hujan meteor lainnya, asal material hujan meteor ini tidak diketahui dengan pasti. Dugaannya adalah komet yang menjadi sumber hujan meteor ini sudah hancur sejak lama.

Mengamati Penyebab Hujan Meteor

Penyebab hujan meteor

Menurut para ahli Peristiwa hujan meteor terjadi ketika Bumi menemui banyak batuan dalam revolusinya. Batuan tersebut berasal dari serpihan komet yang sedang mendekati Matahari. Apabila komet tersebut melintas cukup dekat (atau bahkan berpotongan) dengan orbit Bumi, maka kita akan mengalami hujan meteor setiap kali Bumi melewati wilayah tersebut. Dan meteoroid dalam hujan meteor Leonid ini berasal dari komet 55P Tempel-Tuttle yang memiliki periode 33 tahun. Apabila hujan meteor terjadi setelah komet tersebut melintas, kita akan melihat badai meteor. Dengan begitu, badai meteor Leonid juga memiliki periode yang sama. Dan peristiwa berikutnya akan terjadi pada tahun 2023 nanti.

Mengamati hujan meteor

Hujan meteor adalah salah satu peristiwa astronomis yang dapat dinikmati dengan mata telanjang. Tidak ada peralatan canggih yang diperlukan, misalnya teleskop atau binokuler. Penggunaan alat bantu optik justru akan mempersempit medan pandang dan mempersulit kita untuk melihat meteor yang muncul dan lenyap dengan cepat.

Untuk mengamati hujan meteor, kita hanya perlu melihat area langit yang seluas mungkin karena meteor bisa terlihat dari tempat mana saja. Tentunya keadaan lingkungan yang gelap, minim polusi cahaya dan polusi udara serta nyaman dan aman adalah kondisi ideal yang akan menambah besar kesempatan untuk melihat semakin banyak meteor. Tetapi mematikan lampu lalu duduk atau berbaring di halaman rumah juga sudah cukup baik, mengingat waktu pengamatannya adalah tengah malam sampai jelang fajar.

Pengamatan di kala Bulan tidak muncul juga akan membantu kita melihat meteor-meteor yang redup sehingga kita bisa mengamati dengan jelas bagaimana hujan meteor terjadi.

Hujan Meteor Leonid

Menurut para ahli perbintangan , perplanetan , dan atau apapun itu sebutannya Sebuah hujan meteor sebenarnya terjadi disetiap bulannya. seperti halnya hujan meteor Leonid, yang menurut kabar yang beredar muncul setiap tanggal 15 – 20 November dan berpuncak di kisaran tanggal 18 November setiap tahunnya. Hujan meteor ini pernah disebut yang paling spektakuler ketika jumlah meteor yang tampak mencapai 100.000 buah per jamnya di tahun 1833. Dengan jumlah meteor sebanyak itu, istilah hujan meteor pun berubah menjadi badai meteor. Di keadaan normal, jumlah meteor yang bisa kita lihat antara 5-20 meteor per jam.

(Sumber: Wikipedia)

Nama hujan meteor ini diambil dari nama rasi Leo, yang disebut sebagai titik radian meteor-meteornya. Penamaan sebuah hujan meteor memang menggunakan rasi tempat titik radiannya berada. Titik radian itu sendiri berarti titik imajiner yang menjadi pusat dari semua meteor yang muncul. Apabila setiap meteor dianggap sebagai garis dan kita perpanjang ke arah yang berlawanan dengan arah geraknya, kita akan dapatkan semua garis tersebut seolah bertemu di satu titik. Titik itulah yang disebut titik radian. Mirip seperti jeruji roda yang bertemu di titik tengah roda.

Sebuah meteor akan terlihat sebagai goresan cahaya sekilas di langit. Durasinya tidak sampai satu detik walaupun ada juga yang terlihat cukup lama, bergantung dari ukurannya. Meteor tersebut berasal dari meteoroid yang tertarik gravitasi dan masuk ke atmosfer Bumi. Menurut IAU, meteoroid itu sendiri didefinisikan sebagai benda padat yang bergerak di ruang antar planet, dengan ukuran lebih kecil dari astroid dan lebih besar dari sebuah atom.

Meteoroid yang berpijar

Sebuah meteoroid yang memasuki atmosfer Bumi akan mengalami tumbukan dengan partikel-partikel udara. Tumbukan ini dapat memanaskan meteoroid dan memijarkannya. Namun bukan hanya itu saja yang menyebabkan meteoroid bercahaya. Karena lajunya yang cukup tinggi, meteoroid akan menekan kolom udara di depannya. Tekanan tersebut akan memanaskan udara sedemikian tingginya sehingga dapat memijarkan dan juga melelehkan sebagian meteoroid tersebut.
(Sumber: Wikipedia)

Kebanyakan meteoroid dalam sebuah hujan meteor akan terbakar habis di atmosfer karena ukurannya yang kecil. Tetapi ada juga meteor yang tidak habis di atmosfer, melainkan terus turun dan menumbuk permukaan Bumi. Tumbukan ini dapat menghasilkan kawah dan sisa batuan yang ditemukan disebut meteorit. Meteor seperti itu biasanya bukan berasal dari hujan meteor tetapi termasuk dalam kelompok meteor sporadis. Sebuah meteorit yang baru ditemukan sering dikatakan memiliki suhu tinggi. Padahal sebenarnya tidak begitu karena bagian yang panas dari meteor tersebut sudah hilang. Sehingga meteorit bisa ditemukan dalam keadaan hangat saja.